Spectrum of Hope Talkshow: Membuka Suara Setiap Anak — Kenapa Semakin Banyak Anak Mengalami Speech Delay?

Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Nathan's Foundation menghadirkan sesi talkshow bertajuk "Spectrum of Hope: Unlocking Every Child's Voice — Why Are More Children Experiencing Speech Delay?" sebagai bagian dari rangkaian Inclusive Family Fun Day (IFFD) di MoJA Museum, GBK Jakarta.
Sesi ini dimoderatori langsung oleh Adelle Odelia Tanuri, Direktur Nathan's Foundation, dan menghadirkan tiga narasumber lintas keahlian: Angela Rosalie, M.S., CF-SLP (terapis wicara dan bahasa sekaligus Co-founder Star Champs Indonesia), Olivia Joso, M. Autism (Developmental Educator dengan latar belakang Master of Autism Studies), dan dr. Nunki Samudra, Sp.A (dokter spesialis anak dan edukator publik seputar tumbuh kembang anak).

Talkshow ini digelar untuk menjawab kekhawatiran yang makin sering muncul di kalangan orang tua: mengapa keterlambatan bicara pada anak tampak semakin umum, dan bagaimana orang tua bisa mendampingi anak dengan lebih tepat.
Membuka sesi, Adelle menegaskan bahwa tujuan talkshow ini bukan sekadar menjawab pertanyaan "kapan sih anak saya bisa ngomong?", tapi lebih jauh dari itu.
"Perjalanan dan juga perjuangan orang tua itu semuanya sangat berbeda. Dan itu sih kenapa kita mengadakan talkshow ini, karena untuk anak dengan kebutuhan khusus pastinya kebutuhannya beda-beda dan pastinya perjalanannya juga beda-beda. Dan hari ini mungkin kita melebihi menjawab pertanyaan 'kapan sih anak saya ngomong?', tapi mungkin lebih tentang gimana kami sebagai orang tua bisa lebih memberikan dukungan, support, dan juga mungkin belajar berkomunikasi bersama anak-anak kami," ujar Adelle.
Komunikasi Lebih dari Sekadar Kata
Salah satu miskonsepsi yang paling sering ditemui, menurut Angela, adalah anggapan bahwa komunikasi hanya diukur dari seberapa banyak kata yang bisa diucapkan anak. Padahal, jauh sebelum kemampuan verbal berkembang, ada fondasi yang disebut pre-linguistic skills — mencakup kemampuan memahami bahasa, gestur, eye contact, hingga joint attention.
"Biasanya orang-orang miskonsepsi mengenai komunikasi, bahwa cara yang benar itu hanya melalui cara yang verbal atau melalui kata-kata. Sedangkan komunikasi itu jauh lebih luas daripada berapa banyak kata yang anak itu bisa ucapkan," jelas Angela. Ia juga menyoroti bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi dua arah dan aktif menggunakan bahasa.
Deteksi Dini, Jangan Ditunda
Ketiga narasumber sepakat bahwa deteksi dan intervensi dini adalah kunci. dr. Nunki mengingatkan bahwa perkembangan anak tidak selalu bisa diprediksi secara linear — ada anak yang mengalami regresi setelah sebelumnya berkembang baik, dan sebaliknya.
"Sebenarnya perkembangan anak itu tidak bisa diprediksi. Ada yang awalnya baik, kemudian jadi regresi, dan sebaliknya. Maka monitoring secara berkala itu sangat penting. Mungkin perlu juga orang tua setiap kontrol ke dokter menanyakan perkembangannya sudah sesuai atau belum," katanya. Ia menekankan bahwa kontrol rutin sebaiknya tidak hanya soal berat dan tinggi badan, tapi juga soal apakah perkembangan komunikasi anak sudah sesuai tahapan usianya.

Olivia menambahkan cerita pribadinya sebagai orang tua. Anaknya sempat mengalami regresi di usia sekitar 15 bulan — kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki perlahan hilang — yang akhirnya mendorong keluarganya mencari asesmen hingga mendapat diagnosis autism spectrum disorder.
"Sepanjang perjalanan saya, saya belajar bahwa setiap behavior, setiap perilaku yang mungkin terlihat sebagai perilaku buruk — misal menangis, marah, menggigit — itu adalah suatu komunikasi. Dia (anak) nggak bener-bener mau nyakitin kita sebagai ibu, tapi ada suatu komunikasi yang dia mau sampaikan yang mungkin dia nggak bisa sampaikan dengan verbal," ujar Olivia.
Setiap Anak Butuh Pendekatan Berbeda
Satu hal yang juga ditekankan sepanjang sesi: tidak ada satu jenis atau intensitas terapi yang cocok untuk semua anak. Dua anak dengan diagnosis yang sama pun bisa punya kebutuhan, tantangan, dan kekuatan yang sangat berbeda — sehingga intervensi perlu disesuaikan dengan hasil asesmen masing-masing individu.

Peran orang tua dalam interaksi sehari-hari pun disebut sama pentingnya dengan sesi terapi formal. Bermain, imitasi, memberi pilihan, dan menunggu respons anak adalah bentuk-bentuk kecil yang bisa jadi latihan komunikasi setiap hari.
Memahami Perilaku sebagai Bentuk Komunikasi
Ketiga narasumber juga membahas bagaimana tantrum atau perilaku yang dianggap menantang sering kali adalah cara anak menyampaikan kebutuhan atau sensory overload yang belum bisa mereka ungkapkan dengan cara lain. Regulasi emosi orang tua dan pemenuhan kebutuhan sensori anak menjadi bagian penting dari pendampingan.
Tidak Perlu Berjalan Sendirian
Menutup diskusi tema utama, panel mengingatkan bahwa perjalanan mendampingi anak berkebutuhan khusus tidak seharusnya dijalani sendirian. Komunitas menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman dan dukungan, sementara keluarga, sekolah, dan masyarakat luas juga perlu terus membangun lingkungan yang lebih inklusif bagi individu neurodivergen.

Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan menyoal perbedaan antara verbal dan vokal, serta peran AAC (Augmentative and Alternative Communication). Angela menjelaskan bahwa kemampuan memahami bahasa tidak selalu sejalan dengan kemampuan menghasilkan ujaran secara lisan — sehingga komunikasi bisa didukung lewat AAC, tulisan, mengetik, atau media lain. Olivia mengaitkan hal ini dengan pengalaman anaknya yang memiliki verbal apraxia: memahami bahasa dengan baik, namun kesulitan besar memproduksi ujaran, hingga akhirnya kartu, tulisan, dan mengetik menjadi sarana ekspresinya.

Ada juga pertanyaan soal masking — bagaimana agar individu autistik tidak perlu terus melakukan masking supaya bisa diterima lingkungan. Panel menegaskan bahwa fokusnya bukan semata meminta individu autistik berhenti masking, melainkan meningkatkan kesadaran masyarakat neurotipikal agar lebih peka, empatik, dan mampu mengakomodasi kebutuhan individu neurodivergen.
Pada talkshow kali ini, peserta tidak hanya mendapatkan ilmu, namun juga mendapat penguatan dan dukungan dari para ahli, bahwa untuk merawat anak yang istimewa, perlu dukungan komunitas dan peran seluruh stakeholder.
Dear Ayah dan Bunda, perjalanan Anda mungkin panjang dan melelahkan, tapi yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam perjalanan ini.